Sunday, July 3, 2011

Siput

Jam 3! Aku harus bertemu Buntel. Langsung cepat-cepat mencari sandal di tumpukan sepatu. Sebenarnya mudah karena sandalku  paling kecil dan berwarna-warni. Tetapi karena kebiasaanku untuk menendang sandal tanpa melihat arah, selalu menjadi masalah. Sepedaku ada didekat pintu garasi, jadi tidak perlu mencari-cari. Aku mengayuh melewati beberapa rumah, berbelok ke kanan dan itu dia! Sepeda Buntel sudah terlihat dari jauh. Ku turun dari sepeda dan lari menghampiri temanku.

"Maaf ya Buntel, aku telat!"

"Pasti karena sandalmu? Tapi tidak apa-apa, kau hanya telat..."

Ia melihat jam pemberian ibunya. Memaju mundurkan kepalanya, mengangkat jarinya satu persatu, matanya memutar-mutar keatas. Persis seperti anak sedang belajar matematika. Tapi aku tahu, Buntel hanya bisa membaca jarum kecil.

"Tidak terlalu lama."

Kita mulai mencari siput disepanjang jalan. Ketika sudah terkumpul, kita lempar ke sungai. Berharap mereka bisa berenang ke laut dan memulai hidup baru disana. 

Adil

Basah kuyup, bau comberan. Airnya hanya setinggi lutut. Beberapa batu yang dilempar, meleset lalu dimakan kali. Lucu, walau di alam terbuka aku tetap membutuhkan ruang untuk bernafas. Harus tetap berjalan, atau mati ditangan orang-orang asing. Teriakan semakin parah, keras dan lantang. Tidak ku hiraukan, aku tahu aku salah.

Satu batu mengenai punggungku. Tidak begitu sakit. Namun tiba-tiba kepalaku pusing. Terasa perih dibagian belakang. Bau amis darah mulai menusuk hidung. Ku tekan terus kepalaku, berharap darah berhenti mengalir. Berharap semua ini hanya mimpi.
"Peringatan pertama!"

Tubuhnya besar, mengenakan kemeja merah tua, celana bahan dan sepatu boots setebal-tebal baja. Ia mengacungkan pistol kearahku. Kalau sudah begini, mau tak mau aku harus menyerahkan diri. Mengapa penjambret mendapat timpukan batu dikepala sedangkan koruptor mendapat mobil mewah?

Nyonya

Mati aku digantung nyonya! Demi semua yang ada di dunia, aku hanya berpaling beberapa menit darinya. Itu pun untuk membuat susu. Ketika melihatnya mengapung di kolam, jantungku turun ke jempol kaki. Pertama, memikirkan bagaimana cara mengangkatnya dari kolam yang dalam itu. Emak benar, harusnya dulu aku sering latihan berenang di sungai. Kedua, apakah anak itu masih hidup? Adit! Mas Adit bisa berenang.

Tidak bernafas. Aduh! Sekarang ada dua orang panik, satu anak pingsan dan bunyi klakson. Astaga! Bunyi klakson! Harus. Harus berani melapor ke nyonya.

"Ya sudahlah, besok juga sembuh."

Dasar Ibu gila! Sudah tidak pernah sadar, pulang selalu malam dan sekarang tidak peduli anak. Suka atau tidak, aku dan mas Adit akan mengantar anak ini ke rumah sakit. Naik motor!

Sunday, June 5, 2011

Gerai

Rambutmu yang membuat cinta lari dari dada. Ringkih, mudah pecah. Maka hanya bisa memuji dan mengagumi dari jauh. Sesekali memanggil dan membelainya indah. Bukan kamu yang ku suka, melainkan tiap helai dari rambutmu yang digerai panjang. Terbawa sampai mimpi . Berkali-kali terbangun didalam gelapnya malam karena ingin membelai sekali lagi. Setiap helai berbisik pada jari-jariku. Mengungkapkan betapa lembutnya hatimu. Terurus, terawat, wangi. Mengingatkan akan rambutku dahulu, sebelum tervonis kanker otak. 

Inbox

Aku spasi sayang spasi kamu tanda seru tanda seru
kedap kedip kedap kedip kedap kedip

Harus bilang apa lagi? Harus mulai dari mana?
kedap kedip kedap kedip kedap kedip

Tapi spasi
kedap kedip kedap kedip kedap kedip

Harus jujur! Bilang apa adanya!
Kita spasi tidak spasi bisa spasi bersama titik
kedap kedip kedap kedip kedap kedip

Sakit! seperti sedang berbicara langsung didepan wajahnya
kedap kedip kedap kedip kedap kedip

Karena titik titik titik
kedap kedip kedap kedip kedap kedip

Kita spasi beda spasi agama
Send

Friday, June 3, 2011

Senyum

Ramai-ramai, tapi kau berpasangan dan dia juga. Aku banyangan yang menyelip diantara kerumunan, seluruh inderaku siaga satu. Ikut tertawa, ikut bernyanyi, walau terkadang mata melirik ke pojok. Senyummu, senyumnya dan senyumnya memiliki arti yang sama. Bukan, bukan karena mabuk cinta. Hanya sebatas suka. 

Hembusan angin, membuatku berpaling. Ia berbisik lalu mengelus wajah. Senyumku memiliki arti yang berbeda. Bukan karena cinta ataupun suka. Tapi karena terluka setelah menyaksikan ulahmu. Suka atau tidak, aku memilihmu untuk bermain denganku. Tidak hanya sekedar permainan rumit dan dramatis. Yang kalah akan menanggung rasa sakit luar biasa. Jadi, hapuslah senyummu karena artinya sudah berbeda dengan mereka.

Dia dan Dia


Tangan mencari-cari dibawah bantal. Membuka dan membaca. Ada dua sms, dua-duanya memiliki isi yang sama. Nomornya berbeda.

Bermandikan sinar matahari, kaki melangkah menuju gedung. Tangan mencari-cari didalam saku. Membuka dan membaca. Ada dua sms, dua-duanya menanyakan hal yang sama. Nomornya berbeda.

Diiringgi irama magrib, tangan mencari-cari didalam tas. Membuka dan menulis. Dua pernyataan dan pertanyaan yang sama, lalu dikirim ke nomor yang berbeda.

Nyanyian jangkrik dan bisikan bintang. Membuka, menulis, menulis, menulis, menulis dan menulis. Pernyataan dan pertanyaan yang berbeda. Namun mengakhirinya dengan tulisan yang sama, lalu dikirim ke dua nomor yang berbeda. 

"Aku ngantuk, tidur dulu ya. Malam sayang, i love you!"

Wednesday, June 1, 2011

Kopi

Lelah, seharian mengangkat-angkat kayu, mengoles-oles cement, membuang-buang batu. Saya butuh secangkir kopi, buatan Juminah. Ah, Juminah. Seharian ini ngapain saja dia?  Perasaan ini selalu tidak enak ketika meninggalkan dia sendiri di rumah. Dengan siapa dia bergaul? Saya tidak mengenal baik tetangga-tetangga di kompleks baru ini. Harap dimengerti, saya harus mencari nafkah supaya pernikahan kami bisa saya pertanggung jawabkan. Jadi tidak terlalu banyak waktu yang saya luangkan untuk bersosialisasi. Bau apa ini? Wanginya menyengat. Tidak, tidak mungkin ini minyak wangi perempuan. Siapa yang berani-beraninya mengambil jatah kopi saya?

“Sudah berapa kali saya bilang, kalau ada tamu sajikan saja teh.”

Rambut panjangnya dicepol sangat berantakan. Seluruh tubuhnya tercium bau aneh itu. Kasur kamar porak poranda. Oh ya, dan ada secangkir kopi.

“Siapa yang datang tadi?”

Ia tidak menjawab hanya menunduk, memandangi taplak meja kusam. Saya terus bertanya dengan cara dan intonasi yang berbeda-beda, tapi tetap ia tidak menjawab. Motor berlari kencang diantara gang kecil diikuti oleh tubuh Juminah yang terseret dengan tangan terikat.

“Apa sekarang kamu akan menjawabnya?”

Ladang

Biru, hijau bahkan ada warna merah. Mainan yang lagi digemari seluruh sekolah itu berharga Rp 5.000,-. Untuk seorang anak pengrajin tikar, harga itu lumayan mahal . Tapi saya harus punya satu, atau teman-teman lain akan terus menerus mengejek. Sejujurnya hanya warnanya yang bagus, saya tidak terlalu menyukai cara bermainnya.

“Ha… ha… ha… kamu gak bisa main karena kamu gak punya ha… ha… ha…!!”

Cukup! Ketika bel nanti berdering, saya akan lari ke bapak.

Rumah kumuh, tidak ada batas antara satu ruangan dengan ruangan lain. Panci-panci berkarat menumpuk dipojok ruangan. Bantal-bantal lapuk saling menindih di atas kasur. Tidak ada bapak. 

Beberapa ranting-ranting yang runcing menggores kulitku. Tidak kuhiraukan. Aku harus sampai ketempat bapak mengrajin. Semakin kencang kuberlari, semakin cepat aku mendapatkan mainan jelek itu.

“Bapak, ndak punya uang nak. Benar! Ndak mungkin bapak ndak belikan kamu mainan itu kalau bapak ada uang.”

Panas api memenuhi ruangan. Ada tubuh gosong termakan api ditengah ladang. Harusnya bapak mengerti aku harus memiliki mainan itu. Kalau bapak menuruti apa yang aku mau, aku tak akan membiarkannya kepanasan seperti ini. 

Lilin

Ia buatkan aku hati dari mainan lilinnya. Ia menaruhnya sendiri di dalam dadaku. Hangat, bahagia, semangat hidup kudapatkan kembali. Ketika ia terlelap, aku sendiri. Hanya ditemani kipas, jangkrik liar dan lembabnya malam. Kesal! Mengapa ia tidak membawaku ke dalam mimpinya? Hanya tubuhnya saja yang terbaring disampingku.

“Ni! Kesini kamu!”

Aku tidak bisa bergerak. Aku takut sekali dengan suara itu. Ia sudah pulang. Kenapa harus pulang? Tinggalkan saja aku dan anakku sendiri!

“Nisyah! Cepat! Jangan sampai aku harus menyeretmu kesini!”

Baru berjalan tiga langkah di ruang tamu…

Kali ini ia meninggalkan lima memar dan dua luka seterika di punggungku. Aku tidak bisa menahan, ku keluarkan semuanya. Tangisan, teriakan, dia, sumpah serapah… Hening… Anakku berdiri di depan pintu kamar. Ia berlari dengan langkah-langkah kecil menghampiriku.

“Ini, aku buatkan ibu hati yang baru”

Hangat, bahagia, semangat hidup kudapatkan kembali.

Monday, May 16, 2011

Jati Diri

Ada beribu-ribu kunci di dunia. Tapi hanya ada satu kunci yang dapat membuka pintu kamarku. Aku mencarinya seluruh dunia, dari Asia, Amerika dan Eropa. Australia belum ku jamah. Sedangkan sekarang aku berdiri di tanah Afrika. Pencariannya tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Aku yakin, dikejar singa, diduduki batu, diludahi malaikat kematian pun akan tertutupi oleh perasaan ketika nanti aku dapat membuka pintu kamarku.

Sunday, March 13, 2011

Tiga

Taukah kamu betapa parah aku ingin membunuhmu? Maaf, koreksi. Taukah kamu betapa parah aku ingin menyiksamu? Aku tidak ingin kamu mati, karena kematian adalah sesuatu yang sangat singkat dan kamu tidak akan merasakan apa-apa. Aku menyayangimu tapi kamu menyayanginya. Ia membencimu lalu kamu membenciku. Maka ku putuskan untuk menyiksamu, supaya kamu menyiksanya. Karena aku tidak akan tersakiti kalau dia tidak menyakitimu. Atau kupotong-potong saja dirinya, supaya rasa perihnya menghantui seumur hidupmu. 
Biar tau rasa kamu!

Kucing

Bodoh sekali yang bilang malam itu hitam. Jelas-jelas biru tua yang sangat kelam. Tetapi dikota besar seperti ini warnanya jingga tua, mungkin pancaran dari lampu-lampu kota. Ah! masa warna malam saja bisa beganti-ganti?

Bocah itu memandangi kursi kayu busuk dan merebahkan tubuhnya. Ada tiga kucing tertidur dibawah bangku, mungkin niatnya untuk menemani si bocah. Tidak ada manusia, maka salah satu kucing itu pun diajaknya berbicara.

"Taukah kamu aku belum makan selama dua hari? Aku dapat minum dari keran toilet di Pom Bensin depan. Tapi tidak apa, aku masih bisa hidup. Kucing, apa kamu merasa kesepian? Dan tolong katakan padaku, kemana indukmu? Apa kamu ingat seperti apa warna bulunya? Karena aku sama sekali tidak ingat apa-apa mengenai ibuku. Seolah-olah aku dimuntahkan dari perut bumi."

Ia benar-benar menunggu jawaban dari si kucing sambil memandanginya. Terlalu banyak perasaan dalam satu malam. Campuran antara sepi, lapar, dingin, sendiri dan lapar. Tiba-tiba, lewatlah ide cemerlang dibenaknya. 

Ternyata masih ada yang sayang padaku diatas sana. Kuharap saja rasa mereka tidak jauh berbeda dengan sapi.



Gender

P tidak menyadari kehadiran L
L tidak peduli dengan P
P hobi menggambar
L meminta bantuan P untuk tugas menggambar
P menyadari kehadiran L
L menarik P kedalam dirinya
P membuat L sebagai rumahnya
L meninggalkan P untuk S
L dan S hidup bahagia, sedangkan...
. . . . . P . . . . . 

Harapan

Ini pertama kalinya aku melihat bintang jatuh. Sekarang jam 03.37 pagi. Sudah 25 tahun aku mencari bintang jatuh, namun tidak pernah ketemu. 

Hari ini aku merenung dibalik jendela kamarku. lima tahun belakangan ini banyak sekali yang telah terjadi. Sampai-sampai aku lupa cara berpikirku. Asap rokok mengepul-ngepul diudara dingin lalu menghilang ditelan sepi, tetap saja hati dan pikiran ini resah. 

Setiap mahluk hidup pasti memiliki permintaan. Tapi ketika melihat bintang jatuh, aku lupa permintaanku.
Ah, sudah lupakan saja! Mana mungkin bintang jatuh bisa membantu?

Cuek

Entah siapa yang menyanyikan lagu di radio.
Entah apa lirik dan temanya.
Entah mengapa jalan ini sangat sepi.
Entah dimana mobil ini berlari.
Entah kapan terdengar suara dentuman keras.
Entah bagaimana namaku tertulis di nisan.

Inspirasi

Siapa bilang saya tidak waras? Tunggu, bukannya kamu yang tidak waras? atau kamu takut pada saya karena saya jauh lebih tidak waras dibanding kamu? Intinya, kamu takut tersaingi. Atau kamu sebenarnya waras dan berlagak gila untuk mendapatkan hati mereka? Dan ketika kamu bertemu saya, kamu terkejut karena saya sama sekali tidak berlagak. 

Saya memang tidak waras, saya berani mengakui. Apa kamu berani mengakui kalau kamu palsu? Sejujurnya kamu yang memperkenalkan saya dengan "ketidakwarasan". Pertamanya saya terjebak dalam permainan palsumu tapi sekarang saya tidak bisa keluar. 

Kamu yang membuat saya tidak waras. Sampai kapan pun akan saya hantui kamu. Karena saya mau menikmati ketidakwarasan ini bersamamu. Selamat!