Lelah, seharian mengangkat-angkat kayu, mengoles-oles cement, membuang-buang batu. Saya butuh secangkir kopi, buatan Juminah. Ah, Juminah. Seharian ini ngapain saja dia? Perasaan ini selalu tidak enak ketika meninggalkan dia sendiri di rumah. Dengan siapa dia bergaul? Saya tidak mengenal baik tetangga-tetangga di kompleks baru ini. Harap dimengerti, saya harus mencari nafkah supaya pernikahan kami bisa saya pertanggung jawabkan. Jadi tidak terlalu banyak waktu yang saya luangkan untuk bersosialisasi. Bau apa ini? Wanginya menyengat. Tidak, tidak mungkin ini minyak wangi perempuan. Siapa yang berani-beraninya mengambil jatah kopi saya?
“Sudah berapa kali saya bilang, kalau ada tamu sajikan saja teh.”
Rambut panjangnya dicepol sangat berantakan. Seluruh tubuhnya tercium bau aneh itu. Kasur kamar porak poranda. Oh ya, dan ada secangkir kopi.
“Siapa yang datang tadi?”
Ia tidak menjawab hanya menunduk, memandangi taplak meja kusam. Saya terus bertanya dengan cara dan intonasi yang berbeda-beda, tapi tetap ia tidak menjawab. Motor berlari kencang diantara gang kecil diikuti oleh tubuh Juminah yang terseret dengan tangan terikat.
“Apa sekarang kamu akan menjawabnya?”