Wednesday, June 1, 2011

Ladang

Biru, hijau bahkan ada warna merah. Mainan yang lagi digemari seluruh sekolah itu berharga Rp 5.000,-. Untuk seorang anak pengrajin tikar, harga itu lumayan mahal . Tapi saya harus punya satu, atau teman-teman lain akan terus menerus mengejek. Sejujurnya hanya warnanya yang bagus, saya tidak terlalu menyukai cara bermainnya.

“Ha… ha… ha… kamu gak bisa main karena kamu gak punya ha… ha… ha…!!”

Cukup! Ketika bel nanti berdering, saya akan lari ke bapak.

Rumah kumuh, tidak ada batas antara satu ruangan dengan ruangan lain. Panci-panci berkarat menumpuk dipojok ruangan. Bantal-bantal lapuk saling menindih di atas kasur. Tidak ada bapak. 

Beberapa ranting-ranting yang runcing menggores kulitku. Tidak kuhiraukan. Aku harus sampai ketempat bapak mengrajin. Semakin kencang kuberlari, semakin cepat aku mendapatkan mainan jelek itu.

“Bapak, ndak punya uang nak. Benar! Ndak mungkin bapak ndak belikan kamu mainan itu kalau bapak ada uang.”

Panas api memenuhi ruangan. Ada tubuh gosong termakan api ditengah ladang. Harusnya bapak mengerti aku harus memiliki mainan itu. Kalau bapak menuruti apa yang aku mau, aku tak akan membiarkannya kepanasan seperti ini.