Rambutmu yang membuat cinta lari dari dada. Ringkih, mudah pecah. Maka hanya bisa memuji dan mengagumi dari jauh. Sesekali memanggil dan membelainya indah. Bukan kamu yang ku suka, melainkan tiap helai dari rambutmu yang digerai panjang. Terbawa sampai mimpi . Berkali-kali terbangun didalam gelapnya malam karena ingin membelai sekali lagi. Setiap helai berbisik pada jari-jariku. Mengungkapkan betapa lembutnya hatimu. Terurus, terawat, wangi. Mengingatkan akan rambutku dahulu, sebelum tervonis kanker otak.
Sunday, June 5, 2011
Inbox
Aku spasi sayang spasi kamu tanda seru tanda seru
kedap kedip kedap kedip kedap kedip
Harus bilang apa lagi? Harus mulai dari mana?
kedap kedip kedap kedip kedap kedip
Tapi spasi
kedap kedip kedap kedip kedap kedip
Harus jujur! Bilang apa adanya!
Kita spasi tidak spasi bisa spasi bersama titik
kedap kedip kedap kedip kedap kedip
Sakit! seperti sedang berbicara langsung didepan wajahnya
kedap kedip kedap kedip kedap kedip
Karena titik titik titik
kedap kedip kedap kedip kedap kedip
Kita spasi beda spasi agama
Send
Friday, June 3, 2011
Senyum
Ramai-ramai, tapi kau berpasangan dan dia juga. Aku banyangan yang menyelip diantara kerumunan, seluruh inderaku siaga satu. Ikut tertawa, ikut bernyanyi, walau terkadang mata melirik ke pojok. Senyummu, senyumnya dan senyumnya memiliki arti yang sama. Bukan, bukan karena mabuk cinta. Hanya sebatas suka.
Hembusan angin, membuatku berpaling. Ia berbisik lalu mengelus wajah. Senyumku memiliki arti yang berbeda. Bukan karena cinta ataupun suka. Tapi karena terluka setelah menyaksikan ulahmu. Suka atau tidak, aku memilihmu untuk bermain denganku. Tidak hanya sekedar permainan rumit dan dramatis. Yang kalah akan menanggung rasa sakit luar biasa. Jadi, hapuslah senyummu karena artinya sudah berbeda dengan mereka.
Dia dan Dia
Tangan mencari-cari dibawah bantal. Membuka dan membaca. Ada dua sms, dua-duanya memiliki isi yang sama. Nomornya berbeda.
Bermandikan sinar matahari, kaki melangkah menuju gedung. Tangan mencari-cari didalam saku. Membuka dan membaca. Ada dua sms, dua-duanya menanyakan hal yang sama. Nomornya berbeda.
Diiringgi irama magrib, tangan mencari-cari didalam tas. Membuka dan menulis. Dua pernyataan dan pertanyaan yang sama, lalu dikirim ke nomor yang berbeda.
Nyanyian jangkrik dan bisikan bintang. Membuka, menulis, menulis, menulis, menulis dan menulis. Pernyataan dan pertanyaan yang berbeda. Namun mengakhirinya dengan tulisan yang sama, lalu dikirim ke dua nomor yang berbeda.
"Aku ngantuk, tidur dulu ya. Malam sayang, i love you!"
Wednesday, June 1, 2011
Kopi
Lelah, seharian mengangkat-angkat kayu, mengoles-oles cement, membuang-buang batu. Saya butuh secangkir kopi, buatan Juminah. Ah, Juminah. Seharian ini ngapain saja dia? Perasaan ini selalu tidak enak ketika meninggalkan dia sendiri di rumah. Dengan siapa dia bergaul? Saya tidak mengenal baik tetangga-tetangga di kompleks baru ini. Harap dimengerti, saya harus mencari nafkah supaya pernikahan kami bisa saya pertanggung jawabkan. Jadi tidak terlalu banyak waktu yang saya luangkan untuk bersosialisasi. Bau apa ini? Wanginya menyengat. Tidak, tidak mungkin ini minyak wangi perempuan. Siapa yang berani-beraninya mengambil jatah kopi saya?
“Sudah berapa kali saya bilang, kalau ada tamu sajikan saja teh.”
Rambut panjangnya dicepol sangat berantakan. Seluruh tubuhnya tercium bau aneh itu. Kasur kamar porak poranda. Oh ya, dan ada secangkir kopi.
“Siapa yang datang tadi?”
Ia tidak menjawab hanya menunduk, memandangi taplak meja kusam. Saya terus bertanya dengan cara dan intonasi yang berbeda-beda, tapi tetap ia tidak menjawab. Motor berlari kencang diantara gang kecil diikuti oleh tubuh Juminah yang terseret dengan tangan terikat.
“Apa sekarang kamu akan menjawabnya?”
Ladang
Biru, hijau bahkan ada warna merah. Mainan yang lagi digemari seluruh sekolah itu berharga Rp 5.000,-. Untuk seorang anak pengrajin tikar, harga itu lumayan mahal . Tapi saya harus punya satu, atau teman-teman lain akan terus menerus mengejek. Sejujurnya hanya warnanya yang bagus, saya tidak terlalu menyukai cara bermainnya.
“Ha… ha… ha… kamu gak bisa main karena kamu gak punya ha… ha… ha…!!”
Cukup! Ketika bel nanti berdering, saya akan lari ke bapak.
Rumah kumuh, tidak ada batas antara satu ruangan dengan ruangan lain. Panci-panci berkarat menumpuk dipojok ruangan. Bantal-bantal lapuk saling menindih di atas kasur. Tidak ada bapak.
Beberapa ranting-ranting yang runcing menggores kulitku. Tidak kuhiraukan. Aku harus sampai ketempat bapak mengrajin. Semakin kencang kuberlari, semakin cepat aku mendapatkan mainan jelek itu.
Beberapa ranting-ranting yang runcing menggores kulitku. Tidak kuhiraukan. Aku harus sampai ketempat bapak mengrajin. Semakin kencang kuberlari, semakin cepat aku mendapatkan mainan jelek itu.
“Bapak, ndak punya uang nak. Benar! Ndak mungkin bapak ndak belikan kamu mainan itu kalau bapak ada uang.”
Panas api memenuhi ruangan. Ada tubuh gosong termakan api ditengah ladang. Harusnya bapak mengerti aku harus memiliki mainan itu. Kalau bapak menuruti apa yang aku mau, aku tak akan membiarkannya kepanasan seperti ini.
Lilin
Ia buatkan aku hati dari mainan lilinnya. Ia menaruhnya sendiri di dalam dadaku. Hangat, bahagia, semangat hidup kudapatkan kembali. Ketika ia terlelap, aku sendiri. Hanya ditemani kipas, jangkrik liar dan lembabnya malam. Kesal! Mengapa ia tidak membawaku ke dalam mimpinya? Hanya tubuhnya saja yang terbaring disampingku.
“Ni! Kesini kamu!”
Aku tidak bisa bergerak. Aku takut sekali dengan suara itu. Ia sudah pulang. Kenapa harus pulang? Tinggalkan saja aku dan anakku sendiri!
“Nisyah! Cepat! Jangan sampai aku harus menyeretmu kesini!”
Baru berjalan tiga langkah di ruang tamu…
Kali ini ia meninggalkan lima memar dan dua luka seterika di punggungku. Aku tidak bisa menahan, ku keluarkan semuanya. Tangisan, teriakan, dia, sumpah serapah… Hening… Anakku berdiri di depan pintu kamar. Ia berlari dengan langkah-langkah kecil menghampiriku.
“Ini, aku buatkan ibu hati yang baru”
Hangat, bahagia, semangat hidup kudapatkan kembali.
Subscribe to:
Posts (Atom)