Wednesday, June 1, 2011

Lilin

Ia buatkan aku hati dari mainan lilinnya. Ia menaruhnya sendiri di dalam dadaku. Hangat, bahagia, semangat hidup kudapatkan kembali. Ketika ia terlelap, aku sendiri. Hanya ditemani kipas, jangkrik liar dan lembabnya malam. Kesal! Mengapa ia tidak membawaku ke dalam mimpinya? Hanya tubuhnya saja yang terbaring disampingku.

“Ni! Kesini kamu!”

Aku tidak bisa bergerak. Aku takut sekali dengan suara itu. Ia sudah pulang. Kenapa harus pulang? Tinggalkan saja aku dan anakku sendiri!

“Nisyah! Cepat! Jangan sampai aku harus menyeretmu kesini!”

Baru berjalan tiga langkah di ruang tamu…

Kali ini ia meninggalkan lima memar dan dua luka seterika di punggungku. Aku tidak bisa menahan, ku keluarkan semuanya. Tangisan, teriakan, dia, sumpah serapah… Hening… Anakku berdiri di depan pintu kamar. Ia berlari dengan langkah-langkah kecil menghampiriku.

“Ini, aku buatkan ibu hati yang baru”

Hangat, bahagia, semangat hidup kudapatkan kembali.