Sunday, March 13, 2011

Tiga

Taukah kamu betapa parah aku ingin membunuhmu? Maaf, koreksi. Taukah kamu betapa parah aku ingin menyiksamu? Aku tidak ingin kamu mati, karena kematian adalah sesuatu yang sangat singkat dan kamu tidak akan merasakan apa-apa. Aku menyayangimu tapi kamu menyayanginya. Ia membencimu lalu kamu membenciku. Maka ku putuskan untuk menyiksamu, supaya kamu menyiksanya. Karena aku tidak akan tersakiti kalau dia tidak menyakitimu. Atau kupotong-potong saja dirinya, supaya rasa perihnya menghantui seumur hidupmu. 
Biar tau rasa kamu!

Kucing

Bodoh sekali yang bilang malam itu hitam. Jelas-jelas biru tua yang sangat kelam. Tetapi dikota besar seperti ini warnanya jingga tua, mungkin pancaran dari lampu-lampu kota. Ah! masa warna malam saja bisa beganti-ganti?

Bocah itu memandangi kursi kayu busuk dan merebahkan tubuhnya. Ada tiga kucing tertidur dibawah bangku, mungkin niatnya untuk menemani si bocah. Tidak ada manusia, maka salah satu kucing itu pun diajaknya berbicara.

"Taukah kamu aku belum makan selama dua hari? Aku dapat minum dari keran toilet di Pom Bensin depan. Tapi tidak apa, aku masih bisa hidup. Kucing, apa kamu merasa kesepian? Dan tolong katakan padaku, kemana indukmu? Apa kamu ingat seperti apa warna bulunya? Karena aku sama sekali tidak ingat apa-apa mengenai ibuku. Seolah-olah aku dimuntahkan dari perut bumi."

Ia benar-benar menunggu jawaban dari si kucing sambil memandanginya. Terlalu banyak perasaan dalam satu malam. Campuran antara sepi, lapar, dingin, sendiri dan lapar. Tiba-tiba, lewatlah ide cemerlang dibenaknya. 

Ternyata masih ada yang sayang padaku diatas sana. Kuharap saja rasa mereka tidak jauh berbeda dengan sapi.



Gender

P tidak menyadari kehadiran L
L tidak peduli dengan P
P hobi menggambar
L meminta bantuan P untuk tugas menggambar
P menyadari kehadiran L
L menarik P kedalam dirinya
P membuat L sebagai rumahnya
L meninggalkan P untuk S
L dan S hidup bahagia, sedangkan...
. . . . . P . . . . . 

Harapan

Ini pertama kalinya aku melihat bintang jatuh. Sekarang jam 03.37 pagi. Sudah 25 tahun aku mencari bintang jatuh, namun tidak pernah ketemu. 

Hari ini aku merenung dibalik jendela kamarku. lima tahun belakangan ini banyak sekali yang telah terjadi. Sampai-sampai aku lupa cara berpikirku. Asap rokok mengepul-ngepul diudara dingin lalu menghilang ditelan sepi, tetap saja hati dan pikiran ini resah. 

Setiap mahluk hidup pasti memiliki permintaan. Tapi ketika melihat bintang jatuh, aku lupa permintaanku.
Ah, sudah lupakan saja! Mana mungkin bintang jatuh bisa membantu?

Cuek

Entah siapa yang menyanyikan lagu di radio.
Entah apa lirik dan temanya.
Entah mengapa jalan ini sangat sepi.
Entah dimana mobil ini berlari.
Entah kapan terdengar suara dentuman keras.
Entah bagaimana namaku tertulis di nisan.

Inspirasi

Siapa bilang saya tidak waras? Tunggu, bukannya kamu yang tidak waras? atau kamu takut pada saya karena saya jauh lebih tidak waras dibanding kamu? Intinya, kamu takut tersaingi. Atau kamu sebenarnya waras dan berlagak gila untuk mendapatkan hati mereka? Dan ketika kamu bertemu saya, kamu terkejut karena saya sama sekali tidak berlagak. 

Saya memang tidak waras, saya berani mengakui. Apa kamu berani mengakui kalau kamu palsu? Sejujurnya kamu yang memperkenalkan saya dengan "ketidakwarasan". Pertamanya saya terjebak dalam permainan palsumu tapi sekarang saya tidak bisa keluar. 

Kamu yang membuat saya tidak waras. Sampai kapan pun akan saya hantui kamu. Karena saya mau menikmati ketidakwarasan ini bersamamu. Selamat!