Bodoh sekali yang bilang malam itu hitam. Jelas-jelas biru tua yang sangat kelam. Tetapi dikota besar seperti ini warnanya jingga tua, mungkin pancaran dari lampu-lampu kota. Ah! masa warna malam saja bisa beganti-ganti?
Bocah itu memandangi kursi kayu busuk dan merebahkan tubuhnya. Ada tiga kucing tertidur dibawah bangku, mungkin niatnya untuk menemani si bocah. Tidak ada manusia, maka salah satu kucing itu pun diajaknya berbicara.
"Taukah kamu aku belum makan selama dua hari? Aku dapat minum dari keran toilet di Pom Bensin depan. Tapi tidak apa, aku masih bisa hidup. Kucing, apa kamu merasa kesepian? Dan tolong katakan padaku, kemana indukmu? Apa kamu ingat seperti apa warna bulunya? Karena aku sama sekali tidak ingat apa-apa mengenai ibuku. Seolah-olah aku dimuntahkan dari perut bumi."
Ia benar-benar menunggu jawaban dari si kucing sambil memandanginya. Terlalu banyak perasaan dalam satu malam. Campuran antara sepi, lapar, dingin, sendiri dan lapar. Tiba-tiba, lewatlah ide cemerlang dibenaknya.
Ternyata masih ada yang sayang padaku diatas sana. Kuharap saja rasa mereka tidak jauh berbeda dengan sapi.