Sunday, November 18, 2012

Angkot


Sampah dan tanah bercinta dibawah alas kaki. Angin menari bersama debu dan cahaya matahari. Besi merah berjalan yang kutunggu-tunggu belum juga datang. Beberapa angkutan lain berhenti menawarkan jasa. Berlaga tidak melihat walau itu adalah suatu hal yang mustahil, tetapi lebih baik daripada menolak.


Duduk berdesak-desakan diatas kursi yang hanya memuat setengah bokong. Jumlah tubuh yang ada didalam besi merah ini melampaui batas, mengakibatkan perang batin antar sesama penumpang. Dari dalam tas kutarik buku catatan kuliah tebal dan mulai membaca. Bukan karena ingin ataupun rajin, tetapi untuk menenangkan diri dari tatapan-tatapan pria separuh baya yang duduk diseberang.



“Terakir! Terakir! Bentar lagi berenti terakir”




Masih terasa rasa sakitnya, ketika pria separuh baya dan teman-temannya bergiliran menyetubuhiku. Dan sekarang aku harus melihat mereka pergi ke arah yang berbeda. Masing-masing membawa plastik yang berisi anggota tubuhku, entah mau dibuang kemana. 

Permainan

Benci! Sebenci-bencinya! Lebih rendah dari tahik, lebih rendah dari sampah. Bajingan! Sebajingan-bajinganya! Dia yang membuat kedua kakiku bergetar selama perjalanan pulang.


Beberapa saat yang lalu ada lampu remang-remang didalam ruang. Induk dan anak kucing meliuk-liuk manja di pojok. Dia yang menggundang aku duduk dipangkuannya.


“Kita ngefuck yuk?”


Dengan santai kata-kata itu keluar dari mulutnya. Sorot matanya seperti orang sange ditengah-tengah giting. Hati langsung setuju, tetapi mulut tertawa. Lalu membuat perdebatan mengenai tempat. Disengaja, biar tidak terlihat murah.


Kali ini hanya dia yang mendesah keras. Memang itu intinya. Biarkan dia yang menikmati. Mudah-mudahan kali ini perasaannya bisa naik ke hati.