Benci!
Sebenci-bencinya! Lebih rendah dari tahik, lebih rendah dari sampah. Bajingan!
Sebajingan-bajinganya! Dia yang membuat kedua kakiku bergetar selama perjalanan
pulang.
Beberapa saat yang lalu
ada lampu remang-remang didalam ruang. Induk dan anak kucing meliuk-liuk manja
di pojok. Dia yang menggundang aku duduk dipangkuannya.
“Kita ngefuck yuk?”
Dengan santai kata-kata
itu keluar dari mulutnya. Sorot matanya seperti orang sange ditengah-tengah
giting. Hati langsung setuju, tetapi mulut tertawa. Lalu membuat perdebatan
mengenai tempat. Disengaja, biar tidak terlihat murah.
Kali ini hanya dia yang
mendesah keras. Memang itu intinya. Biarkan dia yang menikmati. Mudah-mudahan
kali ini perasaannya bisa naik ke hati.