Sampah dan tanah bercinta dibawah alas kaki.
Angin menari bersama debu dan cahaya matahari. Besi merah berjalan yang
kutunggu-tunggu belum juga datang. Beberapa angkutan lain berhenti menawarkan
jasa. Berlaga tidak melihat walau itu adalah suatu hal yang mustahil, tetapi
lebih baik daripada menolak.
Duduk berdesak-desakan diatas kursi yang hanya
memuat setengah bokong. Jumlah tubuh yang ada didalam besi merah ini melampaui
batas, mengakibatkan perang batin antar sesama penumpang. Dari dalam tas kutarik
buku catatan kuliah tebal dan mulai membaca. Bukan karena ingin ataupun rajin,
tetapi untuk menenangkan diri dari tatapan-tatapan pria separuh baya yang duduk
diseberang.
“Terakir! Terakir! Bentar lagi
berenti terakir”
Masih terasa rasa sakitnya,
ketika pria separuh baya dan teman-temannya bergiliran menyetubuhiku. Dan
sekarang aku harus melihat mereka pergi ke arah yang berbeda. Masing-masing
membawa plastik yang berisi anggota tubuhku, entah mau dibuang kemana.