Basah kuyup, bau comberan. Airnya hanya setinggi lutut. Beberapa batu yang dilempar, meleset lalu dimakan kali. Lucu, walau di alam terbuka aku tetap membutuhkan ruang untuk bernafas. Harus tetap berjalan, atau mati ditangan orang-orang asing. Teriakan semakin parah, keras dan lantang. Tidak ku hiraukan, aku tahu aku salah.
Satu batu mengenai punggungku. Tidak begitu sakit. Namun tiba-tiba kepalaku pusing. Terasa perih dibagian belakang. Bau amis darah mulai menusuk hidung. Ku tekan terus kepalaku, berharap darah berhenti mengalir. Berharap semua ini hanya mimpi.
"Peringatan pertama!"
Tubuhnya besar, mengenakan kemeja merah tua, celana bahan dan sepatu boots setebal-tebal baja. Ia mengacungkan pistol kearahku. Kalau sudah begini, mau tak mau aku harus menyerahkan diri. Mengapa penjambret mendapat timpukan batu dikepala sedangkan koruptor mendapat mobil mewah?